Setiap pagi di SDN Cihanjaro, Desa Sukamaju, Kecamatan Cimaung, suara bel sekolah menjadi penanda dimulainya aktivitas belajar. Namun bertahun-tahun lamanya, bunyi bel itu kerap datang terlambat—tergantung siapa yang sedang piket hari itu. Kadang lupa, kadang terhambat aktivitas lain. Akibatnya, jam pelajaran bergeser, waktu istirahat tidak konsisten, dan ritme belajar siswa pun ikut terganggu.
Dengan 180 siswa dan 10 tenaga pendidik, SDN Cihanjaro sejatinya memiliki fasilitas fisik yang cukup memadai. Sayangnya, pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan waktu sekolah masih sangat terbatas. Sistem bel manual dan kualitas pengeras suara lama yang kurang optimal menjadi keluhan utama para guru. Suara bel sering tidak terdengar hingga ke area belakang sekolah, membuat sebagian siswa kerap terlambat kembali ke kelas.
Situasi inilah yang kemudian menjadi titik awal lahirnya sebuah inovasi sederhana namun berdampak besar: sistem bel sekolah otomatis berbasis Internet of Things (IoT). Melalui program pengabdian kepada masyarakat, tim dosen dan mahasiswa dari Telkom University merancang dan mengimplementasikan sistem bel otomatis yang terintegrasi dengan mikrokontroler ESP32.
Alih-alih membawa solusi yang rumit, tim memulai dengan mendengarkan. Diskusi dengan guru-guru menjadi fondasi utama perancangan sistem. Hasilnya, lahirlah sebuah perangkat yang tidak hanya akurat secara teknis, tetapi juga ramah pengguna. Sistem ini memanfaatkan modul RTC DS3231 untuk menjaga ketepatan waktu, bahkan saat listrik padam, serta pembaruan sistem audio agar suara bel terdengar jelas di seluruh area sekolah.
Keunggulan utama sistem ini terletak pada antarmuka berbasis web. Melalui ponsel atau laptop, guru dapat mengatur jadwal bel, memilih nada, dan mengatur volume tanpa perlu memahami pemrograman. Semua dilakukan cukup melalui browser, selama perangkat terhubung ke jaringan WiFi sistem.
Setelah melalui tahap perancangan, workshop, dan pendampingan, sistem bel otomatis ini resmi digunakan dalam aktivitas harian sekolah. Hasilnya terasa nyata. Bel berbunyi tepat waktu, pergantian jam pelajaran lebih teratur, dan guru tidak lagi dibebani tugas manual mengingat jadwal. Suasana belajar pun menjadi lebih tertib dan terstruktur.
Evaluasi melalui kuesioner menunjukkan respons yang sangat positif dari para guru. Mayoritas menyatakan bahwa sistem ini mempermudah pengelolaan waktu dan meningkatkan kedisiplinan kegiatan belajar mengajar. Lebih dari sekadar alat, sistem ini menjadi bagian dari transformasi kecil menuju manajemen sekolah yang lebih efisien.
Bagi tim pengabdian, SDN Cihanjaro bukan hanya lokasi implementasi teknologi, melainkan ruang belajar bersama. Di desa ini, teknologi tidak hadir sebagai sesuatu yang asing, melainkan sebagai solusi yang tumbuh dari kebutuhan nyata warga sekolah. Kini, ketika bel sekolah berbunyi di SDN Cihanjaro, ia tak lagi sekadar suara penanda waktu. Ia menjadi simbol perubahan—bahwa dengan teknologi yang tepat guna dan pendekatan yang kolaboratif, sekolah di pelosok pun dapat melangkah menuju pengelolaan yang lebih modern dan disiplin

